Selasa, 13 Oktober 2026

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Ironis, ketika manusia sibuk membicarakan pembangunan dan pemanfaatan lahan, satwa liar justru harus berjuang menyelamatkan diri dari habitatnya sendiri yang dilalap api. Novita, seekor orangutan betina berusia sekitar 3–4 tahun, menjadi salah satu korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Katune, Kalimantan Tengah. Ia ditemukan bertahan di atas pohon di tengah kepungan asap dan kawasan hutan yang terbakar. Alih-alih hidup tenang di habitat alaminya, Novita harus berjuang agar tetap hidup di tengah bencana yang mengancam rumahnya.

Novita dilaporkan terjebak sejak 25 September 2026 dan berhasil dievakuasi pada 26 September oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), personel TNI, dan masyarakat. Kondisinya saat ditemukan cukup memprihatinkan. Kedua telapak tangan dan telapak kakinya mengalami luka bakar, yang diduga terjadi ketika ia melintasi area yang sudah terbakar untuk mencari tempat berlindung. Tim penyelamat memberikan pertolongan darurat berupa oksigen dan cairan infus sebelum membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan BOS Nyaru Menteng untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Sumber: Yayasan BOS dan detikKalimantan.

Namun, berhasil lolos dari kobaran api ternyata bukan akhir dari penderitaan Novita. Dalam perkembangan yang diberitakan pada 12 Oktober 2026, empat ruas jari kaki Novita dilaporkan tidak dapat diselamatkan akibat kerusakan jaringan yang parah. Kondisinya mulai menunjukkan perkembangan, tetapi ia masih membutuhkan perawatan intensif. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada hutan yang hangus atau asap yang menyelimuti permukiman. Satwa yang kehilangan habitat juga menghadapi ancaman luka, gangguan pernapasan, hingga kematian. Bahkan, puluhan orangutan di pusat rehabilitasi BOS Nyaru Menteng dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut di tengah kabut asap. Sumber: detikKalimantan, 12 Oktober 2026.

Ironisnya, hutan sering disebut sebagai kekayaan alam yang harus dijaga, tetapi ketika api melahap habitatnya, makhluk yang tinggal di dalamnya justru harus membayar harga yang mahal. Novita tidak bisa menggelar konferensi pers, mengajukan protes, atau meminta pertanggungjawaban siapa pun. Ia hanya bisa bertahan hidup dan menunggu pertolongan. Tentu, tidak semua kebakaran dapat langsung dikaitkan dengan satu penyebab atau pihak tertentu. Namun, kejadian ini menegaskan pentingnya pencegahan karhutla, perlindungan habitat, dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal. Sebab, jika rumah satwa terus hilang, jangan heran bila suatu hari hutan hanya tinggal nama—sementara penghuninya menjadi korban yang terlambat kita sadari.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/hutan-dibakar-orangutan-yang-menanggung-akibatnya-novita-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki

Sawah Mau Jadi Markas Tentara? Petani Sukabumi Jangan Sampai Cuma Kebagian Debu Pembangunan

Sawah Mau Jadi Markas Tentara? Petani Sukabumi Jangan Sampai Cuma Kebagian Debu Pembangunan

SUKABUMI – Rencana pembangunan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 345/Maung Sancang di kawasan Baru Ajol, Desa Sudajaya Girang, Kabupaten Sukabumi, menuai sorotan. Pasalnya, lahan yang direncanakan untuk pembangunan tersebut selama ini digarap oleh masyarakat untuk kegiatan pertanian. Rencana ini pun memunculkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan mata pencaharian petani dan kepastian penggunaan lahan. Ironisnya, pembangunan yang membawa nama teritorial dan pembangunan justru memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana nasib warga yang selama ini menggantungkan hidup dari tanah tersebut?

Sorotan terhadap rencana itu menguat setelah petani dan kelompok pemerhati masyarakat meminta pemerintah mempertimbangkan dampak sosial serta ekonomi sebelum menentukan penggunaan lahan. Dalam pemberitaan Sukabumi Update pada 9 Oktober 2026, Forum Aktivis Sukabumi untuk Rakyat menyoroti keberadaan ratusan keluarga yang disebut menggantungkan penghasilan dari lahan garapan tersebut. Mereka meminta pemerintah mencari solusi yang tidak merugikan masyarakat kecil, termasuk mempertimbangkan lokasi alternatif apabila memungkinkan. Jadi, persoalannya bukan sekadar lahan akan digunakan untuk apa, melainkan juga bagaimana nasib orang-orang yang selama ini mencari nafkah di sana. Sumber: Sukabumi Update, 9 Oktober 2026.

Di sisi lain, pihak TNI menyatakan persoalan tersebut perlu diselesaikan melalui verifikasi status hukum lahan, komunikasi, dan koordinasi dengan instansi yang berwenang. Komandan Kodim 0607/Kota Sukabumi, Letkol Inf Beny Syafri, menegaskan bahwa penentuan kepemilikan lahan bukan kewenangan Kodim semata dan perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait, termasuk PTPN dan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ia juga menyatakan terbuka terhadap dialog dengan masyarakat. Artinya, status serta mekanisme penggunaan lahan masih membutuhkan penjelasan yang jelas. Karena itu, belum tepat menyimpulkan bahwa lahan tersebut telah dirampas atau bahwa seluruh petani pasti akan kehilangan mata pencaharian. Sumber: Sukabumi Update, 9 Oktober 2026, dan Sukabumi Ku, 10 Oktober 2026.

Pada akhirnya, pembangunan fasilitas pertahanan dan perlindungan mata pencaharian warga seharusnya tidak diposisikan sebagai dua kepentingan yang harus saling mengorbankan. Jika proyek tetap dilanjutkan, pemerintah perlu memastikan status hukum lahan, mendengar aspirasi petani, serta menjelaskan dampak sosial dan ekonomi secara terbuka. Sebab, akan terdengar ironis jika sebuah proyek bernama Batalyon Teritorial Pembangunan justru meninggalkan persoalan bagi warga yang selama ini mengolah tanah untuk bertahan hidup. Pembangunan boleh berjalan, tetapi kejelasan hak, dialog, dan nasib petani jangan sampai hanya menjadi catatan kaki dalam rencana besar negara.

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Ironis, ketika manusia sibuk membicarakan pembangunan dan pemanfaatan lahan, satwa liar justru harus berjuang menyelamatkan diri dari habitatnya sendiri yang dilalap api. Novita, seekor orangutan betina berusia sekitar 3–4 tahun, menjadi salah satu korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Katune, Kalimantan Tengah. Ia ditemukan bertahan di atas pohon di tengah kepungan asap dan kawasan hutan yang terbakar. Alih-alih hidup tenang di habitat alaminya, Novita harus berjuang agar tetap hidup di tengah bencana yang mengancam rumahnya.

Novita dilaporkan terjebak sejak 25 September 2026 dan berhasil dievakuasi pada 26 September oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), personel TNI, dan masyarakat. Kondisinya saat ditemukan cukup memprihatinkan. Kedua telapak tangan dan telapak kakinya mengalami luka bakar, yang diduga terjadi ketika ia melintasi area yang sudah terbakar untuk mencari tempat berlindung. Tim penyelamat memberikan pertolongan darurat berupa oksigen dan cairan infus sebelum membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan BOS Nyaru Menteng untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Sumber: Yayasan BOS dan detikKalimantan.

Namun, berhasil lolos dari kobaran api ternyata bukan akhir dari penderitaan Novita. Dalam perkembangan yang diberitakan pada 12 Oktober 2026, empat ruas jari kaki Novita dilaporkan tidak dapat diselamatkan akibat kerusakan jaringan yang parah. Kondisinya mulai menunjukkan perkembangan, tetapi ia masih membutuhkan perawatan intensif. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada hutan yang hangus atau asap yang menyelimuti permukiman. Satwa yang kehilangan habitat juga menghadapi ancaman luka, gangguan pernapasan, hingga kematian. Bahkan, puluhan orangutan di pusat rehabilitasi BOS Nyaru Menteng dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut di tengah kabut asap. Sumber: detikKalimantan, 12 Oktober 2026.

Ironisnya, hutan sering disebut sebagai kekayaan alam yang harus dijaga, tetapi ketika api melahap habitatnya, makhluk yang tinggal di dalamnya justru harus membayar harga yang mahal. Novita tidak bisa menggelar konferensi pers, mengajukan protes, atau meminta pertanggungjawaban siapa pun. Ia hanya bisa bertahan hidup dan menunggu pertolongan. Tentu, tidak semua kebakaran dapat langsung dikaitkan dengan satu penyebab atau pihak tertentu. Namun, kejadian ini menegaskan pentingnya pencegahan karhutla, perlindungan habitat, dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal. Sebab, jika rumah satwa terus hilang, jangan heran bila suatu hari hutan hanya tinggal nama—sementara penghuninya menjadi korban yang terlambat kita sadari.

Scroll Terus, Kapan Pintarnya? Kenalan dengan ACC Learning!

Scroll Terus, Kapan Pintarnya? Kenalan dengan ACC Learning!

Akuntansi sering dianggap sebagai bidang yang rumit karena identik dengan angka, jurnal, debit, kredit, hingga laporan keuangan. Padahal, memahami akuntansi merupakan keterampilan penting, baik bagi pelajar, mahasiswa, tenaga profesional, maupun pelaku usaha. Di tengah perkembangan teknologi digital, proses mempelajari akuntansi kini dapat didukung dengan pendekatan yang lebih praktis dan fleksibel.

Kemampuan memahami pencatatan transaksi, mengelola keuangan, serta menyusun laporan keuangan menjadi bekal yang berguna dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan. Dengan pemahaman akuntansi yang baik, seseorang dapat lebih mudah membaca kondisi keuangan, mengenali pemasukan dan pengeluaran, serta memahami bagaimana suatu usaha mengelola dan mengevaluasi keuangannya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, ACC Learning hadir sebagai platform pembelajaran yang berfokus pada bidang akuntansi. Melalui pemanfaatan teknologi digital, ACC Learning dapat menjadi sarana untuk mempelajari konsep dan pengetahuan akuntansi secara lebih mudah dijangkau. Platform ini relevan bagi pengguna yang ingin memperdalam pemahaman tentang dunia akuntansi, mulai dari konsep dasar hingga materi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran mereka.

Dengan ACC Learning, belajar akuntansi bisa menjadi langkah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tanpa harus langsung merasa gentar melihat deretan angka. Meski begitu, pemahaman yang kuat tetap membutuhkan latihan, ketelitian, dan konsistensi dalam belajar. Jadi, daripada langsung menyerah saat bertemu debit dan kredit, saatnya membangun pemahaman akuntansi secara bertahap bersama ACC Learning—karena angka memang harus dihitung, bukan ditakuti!

Ruben dan Sarwendah Belum Habis Jadi Sorotan, Nama Betrand Peto Kini Terseret Kasus Hukum

Ruben dan Sarwendah Belum Habis Jadi Sorotan, Nama Betrand Peto Kini Terseret Kasus Hukum

JAKARTA – Dunia hiburan kembali diramaikan kabar yang menyeret keluarga Ruben Onsu. Kali ini, nama Betrand Peto Putra Onsu atau Onyo menjadi perhatian setelah dirinya dilaporkan terkait dugaan tindak pidana kekerasan seksual. Seolah belum cukup menjadi bahan perbincangan publik, persoalan baru ini membuat nama keluarga tersebut kembali ramai dibicarakan. Namun, di balik judul yang mengundang rasa penasaran, ada proses hukum yang harus dihormati dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan komentar warganet.

Kasus ini bermula dari laporan seorang perempuan berinisial ANW ke Polda Metro Jaya pada 12 September 2026. Berdasarkan pemberitaan, pelapor menduga mengalami pelecehan fisik di sebuah tempat hiburan malam di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti kepolisian dengan meminta keterangan dari pihak-pihak terkait. Hingga kini, dugaan tersebut belum menjadi putusan hukum yang menyatakan Betrand bersalah.

Pada Kamis, 8 Oktober 2026, Betrand menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya selama kurang lebih delapan jam. Penyidik menggali kronologi kejadian dan meminta keterangannya sebagai terlapor. Melalui kuasa hukumnya, Betrand membantah tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan menyatakan kooperatif mengikuti proses hukum. Polisi juga menyampaikan akan melakukan gelar perkara untuk mengevaluasi hasil penyelidikan dan menentukan langkah selanjutnya.

Di tengah ramainya komentar publik, satu hal yang perlu diingat: ramai dibicarakan bukan berarti terbukti bersalah. Publik boleh penasaran, tetapi jangan sampai rasa penasaran berubah menjadi vonis sebelum proses hukum selesai. Untuk saat ini, perkembangan kasus Betrand Peto masih menunggu penilaian penyidik terhadap keterangan dan bukti yang tersedia. Jadi, alih-alih buru-buru menyimpulkan, lebih baik menunggu fakta resmi—sebab di dunia nyata, perkara hukum bukan sekadar bahan drama untuk kolom komentar.

Senin, 12 Oktober 2026

Mandalika Bukan Cuma Balapan! Bezzecchi Menang, Pesona Wisata Lombok Jadi Sorotan Dunia

Mandalika Bukan Cuma Balapan! Bezzecchi Menang, Pesona Wisata Lombok Jadi Sorotan Dunia

LOMBOK TENGAH — Sirkuit Pertamina Mandalika kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah Marco Bezzecchi berhasil memenangkan balapan utama MotoGP Indonesia 2026 pada Minggu, 11 Oktober 2026. Pembalap Aprilia Racing tersebut menyelesaikan 27 putaran dengan waktu 40 menit 46,582 detik, disusul Raul Fernandez di posisi kedua dan Jorge Martin di posisi ketiga. Hasil ini menjadi pencapaian istimewa bagi Aprilia karena empat pembalap yang menggunakan motornya menguasai empat posisi teratas. Sementara itu, Marc Marquez harus puas finis di urutan keenam.

Keseruan akhir pekan balap tidak hanya terjadi di kelas MotoGP. Di kelas Moto3, Maximo Quiles meraih kemenangan sekaligus memastikan gelar juara dunia Moto3 2026 meski musim masih menyisakan lima putaran. Pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama, menyelesaikan balapan di posisi keenam. Hasil tersebut menjadi salah satu cerita menarik bagi penggemar balap Tanah Air, karena Veda mampu bersaing dengan para pembalap muda dunia di hadapan penonton Indonesia.

Namun, Mandalika bukan hanya tentang deru mesin dan persaingan di lintasan. Kawasan wisata di Lombok Tengah ini juga menawarkan pantai berpasir putih, perbukitan hijau, dan pemandangan Samudra Hindia. Wisatawan dapat mengunjungi Pantai Kuta Mandalika, Pantai Tanjung Aan, Pantai Seger, hingga Bukit Merese untuk menikmati panorama laut dari ketinggian. Perpaduan olahraga internasional dan keindahan alam tersebut membuat Mandalika memiliki daya tarik bagi pengunjung yang ingin melanjutkan perjalanan setelah menyaksikan balapan.

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata menyebut penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 mencatat lebih dari 150 ribu pengunjung, dengan dampak ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp5 triliun. Aktivitas selama acara berpotensi menggerakkan berbagai sektor, mulai dari hotel, transportasi, kuliner, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Meski demikian, manfaat tersebut perlu terus dijaga agar juga dirasakan masyarakat lokal secara berkelanjutan. Dengan kemenangan Bezzecchi dan daya tarik alam yang dimiliki Lombok, Mandalika kembali memperlihatkan bahwa ajang olahraga internasional dapat berjalan beriringan dengan promosi pariwisata Indonesia.

Berhari-hari Melawan Api, Relawan Tanjung Puting Angkat Tangan! Kini Mereka Meminta Bantuan dari Udara

Berhari-hari Melawan Api, Relawan Tanjung Puting Angkat Tangan! Kini Mereka Meminta Bantuan dari Udara

KOTAWARINGIN BARAT, KALIMANTAN TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, menjadi sorotan setelah para relawan menyampaikan surat terbuka kepada pemerintah. Video permohonan bantuan tersebut beredar luas di media sosial sejak Minggu, 11 Oktober 2026, dan dilaporkan telah meraih lebih dari 4 juta penayangan. Para relawan mengaku kewalahan menghadapi kobaran api yang sulit dikendalikan, terutama di zona inti kawasan konservasi yang menjadi habitat orangutan.

Relawan gabungan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat akhirnya memutuskan menarik sementara personel dari kegiatan pemadaman di lapangan. Perwakilan relawan, Moncos, menyebut berbagai upaya telah dilakukan selama berhari-hari, tetapi hasilnya dinilai belum signifikan. Keputusan tersebut bukan berarti kebakaran telah selesai ditangani, melainkan menunjukkan bahwa kemampuan relawan di lapangan telah mencapai batas dan membutuhkan dukungan operasional yang lebih memadai.

Melalui surat terbuka itu, para relawan meminta pemerintah segera meningkatkan penanganan, termasuk mengerahkan helikopter water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat. Namun, upaya pemadaman dari udara juga menghadapi kendala. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut jarak pandang yang rendah akibat asap menghambat operasi helikopter. Kondisi ini membuat penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting membutuhkan strategi dan dukungan yang sesuai dengan keadaan di lapangan.

Persoalan ini bukan hanya tentang api yang membakar hutan, tetapi juga tentang kelangsungan habitat orangutan dan satwa liar lainnya. Kerusakan kawasan konservasi dapat mengancam ruang hidup satwa sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem. Desakan para relawan pun menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla memerlukan langkah nyata, koordinasi lintas instansi, serta dukungan peralatan dan logistik yang memadai. Masyarakat kini menantikan langkah lanjutan pemerintah untuk memperkuat pemadaman dan mencegah kebakaran meluas lebih jauh.

Belajar Akuntansi Tak Harus Bikin Pusing, ACC Learning Hadir dengan Cara yang Lebih Praktis

Belajar akuntansi sering dianggap rumit karena identik dengan angka, jurnal, laporan keuangan, hingga perhitungan yang membutuhkan ketelitia...