Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Oktober 2026

Kebakaran di Pegunungan, Mengapa Ribuan Warga Pasuruan Ikut Terdampak?

Kebakaran di Pegunungan, Mengapa Ribuan Warga Pasuruan Ikut Terdampak?

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Arjuno-Welirang dan Gunung Ringgit, Jawa Timur, bukan hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga merusak jaringan pipa air bersih yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Ironisnya, ketika api melalap kawasan hutan, warga di kaki gunung justru harus menghadapi persoalan lain: kesulitan mendapatkan air untuk minum, memasak, mandi, dan kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan laporan pada 20 Oktober 2026, kerusakan jaringan pipa mencapai sekitar 5,2 kilometer.

Dampak paling nyata dirasakan warga Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Menurut laporan detikJatim, sekitar 2.900 kepala keluarga terdampak akibat kerusakan pipa yang mengalirkan air dari sumber mata air menuju tempat penampungan. Warga yang terdampak tersebar di Dusun Tonggowa, Dusun Cowek, dan Dusun Tegal Kidul. Sementara itu, Desa Dayurejo di Kecamatan Prigen juga dilaporkan mengalami gangguan pasokan air. Jaringan yang melayani Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, turut diperiksa untuk memastikan tingkat kerusakannya.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan tidak berhenti pada pohon yang hangus atau lahan yang menghitam. Kerusakan infrastruktur air dapat langsung mengganggu kehidupan ribuan keluarga. Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah menyiapkan anggaran untuk memperbaiki jaringan pipa dan menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki selama proses pemulihan. Namun, bagi warga yang harus mengatur persediaan air setiap hari, pemulihan jaringan tentu menjadi hal yang mendesak.

Ironisnya, hutan yang terbakar bukan hanya meninggalkan asap dan lahan rusak, tetapi juga membuat warga kesulitan memperoleh air bersih. Jangan sampai masyarakat harus ikut menanggung “tagihan” bencana berupa hilangnya akses terhadap kebutuhan paling mendasar. Penanganan kebakaran perlu berjalan beriringan dengan pemulihan jaringan air dan perlindungan kawasan hutan agar kejadian serupa tidak terus berulang. Sebab, ketika air bersih ikut terputus, dampak kebakaran tidak lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan kehidupan masyarakat.

Senin, 19 Oktober 2026

Liburan Karyawan Berujung Duka di Tol Ngawi, Bus Tabrak Truk hingga 3 Orang Tewas

Liburan Karyawan Berujung Duka di Tol Ngawi, Bus Tabrak Truk hingga 3 Orang Tewas

Kecelakaan maut terjadi di ruas Tol Ngawi–Solo, tepatnya di Desa Kedungharjo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada Minggu dini hari, 18 Oktober 2026. Sebuah bus pariwisata Chandra Jaya yang membawa rombongan karyawan PT Cipta Alas Nusantara asal Mojokerto menabrak truk Fuso bermuatan tripleks yang sedang berhenti di bahu jalan. Peristiwa tragis tersebut mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan 19 orang lainnya mengalami luka-luka. Rombongan saat itu tengah melakukan perjalanan menuju Yogyakarta untuk mengikuti kegiatan wisata bersama.

Berdasarkan keterangan awal kepolisian, kecelakaan terjadi sekitar pukul 03.00 WIB di kilometer 551+200 B Tol Ngawi–Solo. Truk Fuso tersebut diketahui berhenti karena mengalami kerusakan pada ban belakang sebelah kanan. Saat bus melintas, kendaraan diduga oleng ke kiri hingga menghantam bagian belakang truk. Dua korban meninggal dunia merupakan rekan pengemudi truk yang berada di sekitar kendaraan untuk membantu perbaikan, sedangkan satu korban lainnya adalah penumpang bus. Ketiga korban meninggal dunia dilaporkan bernama Alfred Noo, Yoseph Rianto, dan Muhammad Iskhak.

Sebanyak 19 orang yang mengalami luka-luka dievakuasi ke sejumlah rumah sakit di wilayah Ngawi untuk mendapatkan penanganan medis. Sejumlah penumpang mengaku sedang tertidur ketika benturan terjadi sehingga tidak mengetahui secara pasti bagaimana kecelakaan bermula. Insiden ini kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan selama perjalanan jarak jauh, terutama pada dini hari ketika pengemudi berpotensi mengalami kelelahan atau mengantuk. Meski demikian, faktor penyebab kecelakaan tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan dugaan tersebut karena penyelidikan kepolisian masih berlangsung.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Ngawi, Iptu Agus Harianto, membenarkan bahwa bus menabrak truk yang sedang berhenti akibat mengalami kerusakan ban. Polisi masih mendalami kronologi kejadian untuk memastikan penyebab kecelakaan secara menyeluruh. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi pengelola perjalanan wisata dan pengemudi kendaraan besar agar memperhatikan kondisi kendaraan, kecukupan istirahat, serta keselamatan saat menghadapi kendaraan yang berhenti di bahu jalan. Keselamatan perjalanan bukan hanya bergantung pada keterampilan pengemudi, tetapi juga pada kewaspadaan dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan di jalan tol.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Semeru Lagi-Lagi Erupsi! Manusia Masih Suka Cari Pemandangan, Alam Sudah Kasih Peringatan

Semeru Lagi-Lagi Erupsi! Manusia Masih Suka Cari Pemandangan, Alam Sudah Kasih Peringatan

Lumajang, Jawa Timur, 17 Oktober 2026 — Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Sabtu pagi. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pukul 06.35 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 800 meter di atas puncak. Abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal teramati condong ke arah barat. Bagi warga di sekitar gunung, kabar ini bukan sekadar tontonan alam, melainkan pengingat bahwa aktivitas vulkanik tidak bisa dianggap remeh.

Aktivitas Gunung Semeru kali ini juga menjadi perhatian karena gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang tersebut masih berstatus Level III atau Siaga. Dalam laporan yang sama, erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 30 detik. Jadi, meskipun abu yang membubung ke langit terlihat menarik dalam foto atau video, menjadikan erupsi sebagai bahan wisata dadakan jelas bukan ide yang patut ditiru.

PVMBG mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Warga juga diminta menjauhi sempadan sungai sejauh 500 meter karena awan panas dan aliran lahar berpotensi meluas hingga 17 kilometer dari puncak. Selain itu, kawasan dalam radius 5 kilometer dari kawah harus dihindari karena berisiko terkena lontaran batu pijar. Dengan kata lain, jangan sampai demi konten yang terlihat keren, keselamatan justru dijadikan taruhan.

Bagi masyarakat di wilayah Lumajang, khususnya yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di Gunung Semeru, kewaspadaan perlu terus dijaga. Potensi awan panas, guguran lava, dan lahar dapat membahayakan warga, terutama di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Alam tidak bisa diajak bercanda, jadi lebih baik mengikuti arahan petugas daripada sibuk mencari sudut terbaik untuk merekam letusan. Sebab, video bisa diambil kapan saja, tetapi keselamatan tidak punya tombol ulang.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/semeru-lagi-lagi-erupsi-manusia-masih-suka-cari-pemandangan-alam-sudah-kasih-peringatan

Semeru Lagi-Lagi Erupsi! Manusia Masih Suka Cari Pemandangan, Alam Sudah Kasih Peringatan

Semeru Lagi-Lagi Erupsi! Manusia Masih Suka Cari Pemandangan, Alam Sudah Kasih Peringatan

Lumajang, Jawa Timur, 17 Oktober 2026 — Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Sabtu pagi. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pukul 06.35 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 800 meter di atas puncak. Abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal teramati condong ke arah barat. Bagi warga di sekitar gunung, kabar ini bukan sekadar tontonan alam, melainkan pengingat bahwa aktivitas vulkanik tidak bisa dianggap remeh.

Aktivitas Gunung Semeru kali ini juga menjadi perhatian karena gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang tersebut masih berstatus Level III atau Siaga. Dalam laporan yang sama, erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 30 detik. Jadi, meskipun abu yang membubung ke langit terlihat menarik dalam foto atau video, menjadikan erupsi sebagai bahan wisata dadakan jelas bukan ide yang patut ditiru.

PVMBG mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Warga juga diminta menjauhi sempadan sungai sejauh 500 meter karena awan panas dan aliran lahar berpotensi meluas hingga 17 kilometer dari puncak. Selain itu, kawasan dalam radius 5 kilometer dari kawah harus dihindari karena berisiko terkena lontaran batu pijar. Dengan kata lain, jangan sampai demi konten yang terlihat keren, keselamatan justru dijadikan taruhan.

Bagi masyarakat di wilayah Lumajang, khususnya yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di Gunung Semeru, kewaspadaan perlu terus dijaga. Potensi awan panas, guguran lava, dan lahar dapat membahayakan warga, terutama di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Alam tidak bisa diajak bercanda, jadi lebih baik mengikuti arahan petugas daripada sibuk mencari sudut terbaik untuk merekam letusan. Sebab, video bisa diambil kapan saja, tetapi keselamatan tidak punya tombol ulang.

Selasa, 13 Oktober 2026

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Ironis, ketika manusia sibuk membicarakan pembangunan dan pemanfaatan lahan, satwa liar justru harus berjuang menyelamatkan diri dari habitatnya sendiri yang dilalap api. Novita, seekor orangutan betina berusia sekitar 3–4 tahun, menjadi salah satu korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Katune, Kalimantan Tengah. Ia ditemukan bertahan di atas pohon di tengah kepungan asap dan kawasan hutan yang terbakar. Alih-alih hidup tenang di habitat alaminya, Novita harus berjuang agar tetap hidup di tengah bencana yang mengancam rumahnya.

Novita dilaporkan terjebak sejak 25 September 2026 dan berhasil dievakuasi pada 26 September oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), personel TNI, dan masyarakat. Kondisinya saat ditemukan cukup memprihatinkan. Kedua telapak tangan dan telapak kakinya mengalami luka bakar, yang diduga terjadi ketika ia melintasi area yang sudah terbakar untuk mencari tempat berlindung. Tim penyelamat memberikan pertolongan darurat berupa oksigen dan cairan infus sebelum membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan BOS Nyaru Menteng untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Sumber: Yayasan BOS dan detikKalimantan.

Namun, berhasil lolos dari kobaran api ternyata bukan akhir dari penderitaan Novita. Dalam perkembangan yang diberitakan pada 12 Oktober 2026, empat ruas jari kaki Novita dilaporkan tidak dapat diselamatkan akibat kerusakan jaringan yang parah. Kondisinya mulai menunjukkan perkembangan, tetapi ia masih membutuhkan perawatan intensif. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada hutan yang hangus atau asap yang menyelimuti permukiman. Satwa yang kehilangan habitat juga menghadapi ancaman luka, gangguan pernapasan, hingga kematian. Bahkan, puluhan orangutan di pusat rehabilitasi BOS Nyaru Menteng dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut di tengah kabut asap. Sumber: detikKalimantan, 12 Oktober 2026.

Ironisnya, hutan sering disebut sebagai kekayaan alam yang harus dijaga, tetapi ketika api melahap habitatnya, makhluk yang tinggal di dalamnya justru harus membayar harga yang mahal. Novita tidak bisa menggelar konferensi pers, mengajukan protes, atau meminta pertanggungjawaban siapa pun. Ia hanya bisa bertahan hidup dan menunggu pertolongan. Tentu, tidak semua kebakaran dapat langsung dikaitkan dengan satu penyebab atau pihak tertentu. Namun, kejadian ini menegaskan pentingnya pencegahan karhutla, perlindungan habitat, dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal. Sebab, jika rumah satwa terus hilang, jangan heran bila suatu hari hutan hanya tinggal nama—sementara penghuninya menjadi korban yang terlambat kita sadari.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/hutan-dibakar-orangutan-yang-menanggung-akibatnya-novita-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Ironis, ketika manusia sibuk membicarakan pembangunan dan pemanfaatan lahan, satwa liar justru harus berjuang menyelamatkan diri dari habitatnya sendiri yang dilalap api. Novita, seekor orangutan betina berusia sekitar 3–4 tahun, menjadi salah satu korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Katune, Kalimantan Tengah. Ia ditemukan bertahan di atas pohon di tengah kepungan asap dan kawasan hutan yang terbakar. Alih-alih hidup tenang di habitat alaminya, Novita harus berjuang agar tetap hidup di tengah bencana yang mengancam rumahnya.

Novita dilaporkan terjebak sejak 25 September 2026 dan berhasil dievakuasi pada 26 September oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), personel TNI, dan masyarakat. Kondisinya saat ditemukan cukup memprihatinkan. Kedua telapak tangan dan telapak kakinya mengalami luka bakar, yang diduga terjadi ketika ia melintasi area yang sudah terbakar untuk mencari tempat berlindung. Tim penyelamat memberikan pertolongan darurat berupa oksigen dan cairan infus sebelum membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan BOS Nyaru Menteng untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Sumber: Yayasan BOS dan detikKalimantan.

Namun, berhasil lolos dari kobaran api ternyata bukan akhir dari penderitaan Novita. Dalam perkembangan yang diberitakan pada 12 Oktober 2026, empat ruas jari kaki Novita dilaporkan tidak dapat diselamatkan akibat kerusakan jaringan yang parah. Kondisinya mulai menunjukkan perkembangan, tetapi ia masih membutuhkan perawatan intensif. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada hutan yang hangus atau asap yang menyelimuti permukiman. Satwa yang kehilangan habitat juga menghadapi ancaman luka, gangguan pernapasan, hingga kematian. Bahkan, puluhan orangutan di pusat rehabilitasi BOS Nyaru Menteng dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut di tengah kabut asap. Sumber: detikKalimantan, 12 Oktober 2026.

Ironisnya, hutan sering disebut sebagai kekayaan alam yang harus dijaga, tetapi ketika api melahap habitatnya, makhluk yang tinggal di dalamnya justru harus membayar harga yang mahal. Novita tidak bisa menggelar konferensi pers, mengajukan protes, atau meminta pertanggungjawaban siapa pun. Ia hanya bisa bertahan hidup dan menunggu pertolongan. Tentu, tidak semua kebakaran dapat langsung dikaitkan dengan satu penyebab atau pihak tertentu. Namun, kejadian ini menegaskan pentingnya pencegahan karhutla, perlindungan habitat, dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal. Sebab, jika rumah satwa terus hilang, jangan heran bila suatu hari hutan hanya tinggal nama—sementara penghuninya menjadi korban yang terlambat kita sadari.

Senin, 12 Oktober 2026

Berhari-hari Melawan Api, Relawan Tanjung Puting Angkat Tangan! Kini Mereka Meminta Bantuan dari Udara

Berhari-hari Melawan Api, Relawan Tanjung Puting Angkat Tangan! Kini Mereka Meminta Bantuan dari Udara

KOTAWARINGIN BARAT, KALIMANTAN TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, menjadi sorotan setelah para relawan menyampaikan surat terbuka kepada pemerintah. Video permohonan bantuan tersebut beredar luas di media sosial sejak Minggu, 11 Oktober 2026, dan dilaporkan telah meraih lebih dari 4 juta penayangan. Para relawan mengaku kewalahan menghadapi kobaran api yang sulit dikendalikan, terutama di zona inti kawasan konservasi yang menjadi habitat orangutan.

Relawan gabungan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat akhirnya memutuskan menarik sementara personel dari kegiatan pemadaman di lapangan. Perwakilan relawan, Moncos, menyebut berbagai upaya telah dilakukan selama berhari-hari, tetapi hasilnya dinilai belum signifikan. Keputusan tersebut bukan berarti kebakaran telah selesai ditangani, melainkan menunjukkan bahwa kemampuan relawan di lapangan telah mencapai batas dan membutuhkan dukungan operasional yang lebih memadai.

Melalui surat terbuka itu, para relawan meminta pemerintah segera meningkatkan penanganan, termasuk mengerahkan helikopter water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat. Namun, upaya pemadaman dari udara juga menghadapi kendala. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut jarak pandang yang rendah akibat asap menghambat operasi helikopter. Kondisi ini membuat penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting membutuhkan strategi dan dukungan yang sesuai dengan keadaan di lapangan.

Persoalan ini bukan hanya tentang api yang membakar hutan, tetapi juga tentang kelangsungan habitat orangutan dan satwa liar lainnya. Kerusakan kawasan konservasi dapat mengancam ruang hidup satwa sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem. Desakan para relawan pun menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla memerlukan langkah nyata, koordinasi lintas instansi, serta dukungan peralatan dan logistik yang memadai. Masyarakat kini menantikan langkah lanjutan pemerintah untuk memperkuat pemadaman dan mencegah kebakaran meluas lebih jauh.

Jumat, 09 Oktober 2026

Jasad Pria Ditemukan Mengapung di Perairan Gresik, Identitas dan Penyebab Kematian Jadi Sorotan

Jasad Pria Ditemukan Mengapung di Perairan Gresik, Identitas dan Penyebab Kematian Jadi Sorotan

GRESIK, 9 Oktober 2026 – Penemuan jasad seorang pria yang mengapung di perairan Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mengundang perhatian masyarakat. Jasad tersebut ditemukan oleh nelayan di perairan antara Pulau Mengare dan Desa Karangjamuan pada Sabtu (3/10/2026) sore. Setelah menerima laporan, petugas Satpolairud Polres Gresik segera menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Hingga laporan terbaru, penyebab kematian korban masih dalam pemeriksaan pihak berwenang.

Penemuan bermula ketika nelayan yang sedang mencari ikan melihat sosok tubuh manusia mengapung di permukaan laut. Menyadari kondisi tersebut, nelayan segera melaporkannya kepada petugas. Satpolairud Polres Gresik kemudian mengerahkan kapal patroli KP X-1017 bersama personel Ditpolairud Polda Jawa Timur yang menggunakan sejumlah kapal pendukung untuk membantu proses evakuasi.

Setelah berhasil dievakuasi, jasad korban dibawa ke RSUD Ibnu Sina Gresik untuk menjalani pemeriksaan medis dan visum. Berdasarkan keterangan kepolisian yang diberitakan media, identitas korban diketahui dari kartu tanda penduduk (KTP) yang ditemukan di saku celananya. Korban diketahui bernama Moch Alga Pamungkas, berusia 25 tahun, dan tercatat sebagai warga Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya.

Dalam penanganan kasus ini, petugas juga meminta keterangan dari dua nelayan yang mengetahui keberadaan jasad tersebut. Polisi turut berupaya menghubungi keluarga korban berdasarkan identitas yang ditemukan. Meski identitas telah diketahui melalui KTP, penyebab korban berada di perairan tersebut serta kondisi yang mengakibatkan kematiannya belum dapat dipastikan. Kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut sebelum menyampaikan kesimpulan.

Satpolairud Polres Gresik mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna jalur laut, agar segera melapor apabila menemukan kejadian mencurigakan atau situasi darurat di perairan. Masyarakat dapat menghubungi layanan darurat kepolisian 110 untuk meminta bantuan. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan saat beraktivitas di laut serta perlunya menunggu informasi resmi agar penyebab kematian korban tidak disimpulkan berdasarkan dugaan semata.

Jalan Penghubung Jember–Banyuwangi Retak Sepanjang 40 Meter, Pengendara Diminta Waspada

Jalan Penghubung Jember–Banyuwangi Retak Sepanjang 40 Meter, Pengendara Diminta Waspada

Jawa Timur, 9 Oktober 2026 – Kerusakan jalan penghubung Kabupaten Jember dan Banyuwangi menjadi perhatian setelah dilaporkan terdapat retakan sepanjang sekitar 40 meter. Kondisi ini mengundang kekhawatiran karena kerusakan jalan berada di dekat jurang dengan kedalaman sekitar 2–3 meter. Pengendara yang melintasi jalur tersebut diimbau untuk lebih berhati-hati, terutama ketika melewati bagian jalan yang mengalami keretakan.

Retakan pada badan jalan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan apabila terus meluas atau menyebabkan sebagian permukaan jalan ambles. Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan jika jalur berada di kawasan dengan kondisi tanah yang labil atau berdekatan dengan tebing. Pengendara sepeda motor maupun mobil disarankan mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta tidak berhenti di dekat bagian jalan yang terlihat retak.

Kerusakan jalan di jalur penghubung antarkabupaten juga dapat mengganggu kelancaran mobilitas masyarakat. Jalan tersebut menjadi salah satu akses penting bagi warga yang melakukan perjalanan untuk bekerja, berdagang, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari antara Jember dan Banyuwangi. Karena itu, pemeriksaan kondisi jalan dan penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah kerusakan bertambah parah serta mengurangi risiko kecelakaan.

Masyarakat yang melintas di sekitar lokasi diharapkan memperhatikan rambu-rambu peringatan dan mengikuti arahan petugas apabila terdapat pengaturan lalu lintas. Jika ditemukan retakan yang semakin lebar, permukaan jalan turun, atau tanda-tanda longsor, pengguna jalan sebaiknya menghindari area berbahaya dan melaporkannya kepada pihak berwenang. Informasi mengenai lokasi persis kerusakan, penyebab retakan, serta rencana perbaikan perlu dikonfirmasi melalui instansi terkait.

Kerusakan sepanjang sekitar 40 meter tersebut menjadi pengingat pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan, khususnya pada jalur yang berdekatan dengan jurang atau kawasan rawan pergerakan tanah. Penanganan yang cepat dan pemeriksaan teknis diperlukan agar akses Jember–Banyuwangi tetap aman digunakan masyarakat. Hingga tersedia keterangan resmi lebih lanjut, pengendara sebaiknya mengutamakan keselamatan dan tidak menganggap kondisi jalan tersebut aman untuk dilalui dengan kecepatan normal.

Rabu, 07 Oktober 2026

Krisis Air di Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, El NiƱo Perpanjang Musim Kering

Krisis Air di Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, El NiƱo Perpanjang Musim Kering

Krisis air mulai menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kalimantan setelah periode tanpa hujan berlangsung cukup panjang. Kondisi tersebut menyebabkan ketersediaan air bersih bagi sebagian masyarakat menurun, sementara cuaca kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Fenomena El NiƱo turut memperkuat kondisi kering dengan meningkatkan potensi berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Dampak kondisi kering mulai terasa di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Di Kalimantan Barat, wilayah seperti Ketapang, Melawi, dan Kubu Raya tercatat memiliki aktivitas titik panas yang tinggi. Sementara itu, di Kalimantan Tengah, perhatian tertuju pada kawasan Pulang Pisau dan Palangka Raya yang memiliki lahan gambut yang rentan mengalami kekeringan dan kebakaran. Kalimantan Selatan juga menghadapi risiko serupa, khususnya di wilayah Banjar, Tanah Laut, Barito Kuala, dan Tapin.

Dampak kekeringan menjadi semakin kompleks di kawasan yang memiliki lahan gambut. Ketika gambut kehilangan kelembapan dalam waktu lama, material organik di dalamnya menjadi lebih mudah terbakar dan api dapat menyebar di bawah permukaan. Kondisi ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat serta memperburuk kualitas udara apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim kering yang berkepanjangan. Masyarakat perlu menghemat penggunaan air dan menjaga sumber air yang masih tersedia, sementara pemerintah dan pihak terkait perlu memperkuat distribusi air bersih, pemantauan titik panas, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Langkah antisipasi sejak dini diperlukan agar dampak kekeringan terhadap masyarakat dan lingkungan di Kalimantan dapat ditekan.

Selasa, 06 Oktober 2026

Ledakan Guncang Ruko San Antonio Pakuwon City Surabaya, 41 Bangunan Rusak dan Lima Orang Terluka

Ledakan Guncang Ruko San Antonio Pakuwon City Surabaya, 41 Bangunan Rusak dan Lima Orang Terluka

Ledakan mengguncang kawasan Ruko San Antonio, Pakuwon City, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, pada Selasa (6/10/2026) pagi. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 07.00 WIB tersebut menyebabkan lima orang mengalami luka-luka dan langsung dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis. Petugas gabungan kemudian mengamankan lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). (Antara News)

Dampak ledakan tidak hanya terjadi pada bangunan yang menjadi titik kejadian. Data sementara kepolisian mencatat sekitar 41 bangunan mengalami kerusakan, termasuk ruko dan sejumlah rumah di sekitar lokasi. Kerusakan terutama berupa kaca pecah, sementara beberapa bangunan dilaporkan mengalami kerusakan lebih berat. Sejumlah kendaraan di sekitar lokasi juga terdampak. (detikcom)

Mengenai penyebabnya, polisi menyatakan tidak menemukan bahan peledak atau unsur bom dalam pemeriksaan awal. Berdasarkan keterangan saksi dan hasil penyelidikan sementara, ledakan diduga berkaitan dengan kebocoran gas LPG di lokasi yang kemudian menimbulkan tekanan gas. Namun, petugas masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab dan rangkaian kejadian secara menyeluruh. (detikcom)

Saat ini area sekitar lokasi telah diamankan untuk mendukung proses pemeriksaan dan penanganan. Masyarakat juga diimbau menjauhi area kejadian dan menggunakan jalur alternatif karena akses di sekitar lokasi digunakan kendaraan petugas. Penanganan dilakukan oleh kepolisian bersama unsur pemerintah dan tim terkait, sementara kondisi para korban masih mendapatkan perawatan medis. (Bisnis.com)

Rabu, 30 September 2026

Tabrakan Kereta Bekasi Kembali Jadi Sorotan, Masinis Argo Bromo Kini Tersangka

Tabrakan Kereta Bekasi Kembali Jadi Sorotan, Masinis Argo Bromo Kini Tersangka

Tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur kembali menjadi sorotan setelah polisi menetapkan masinis KA Argo Bromo Anggrek berinisial AN (37) sebagai tersangka. Penetapan tersebut dilakukan Polda Metro Jaya setelah penyidik menganalisis sejumlah alat bukti dan hasil pemeriksaan terkait kecelakaan yang terjadi pada 27 April 2026. Peristiwa tersebut menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Polisi menyebut penetapan tersangka berkaitan dengan hasil penyidikan mengenai tindakan pengereman sebelum tabrakan. Berdasarkan data logger, pengereman darurat dilakukan ketika KA Argo Bromo Anggrek berada sekitar 263 meter dari titik tumburan dengan KRL. Penyidik menyimpulkan pengereman darurat seharusnya dilakukan dari jarak yang lebih jauh.

Kecelakaan itu terjadi setelah KRL berhenti di Jalur 1 Stasiun Bekasi Timur. Sebelumnya, sebuah taksi listrik mengalami kecelakaan dengan KRL di perlintasan sebidang Jalan Ampera sehingga memicu kerumunan warga di sekitar jalur kereta. Kondisi tersebut membuat KRL yang menuju Stasiun Tambun berhenti lebih lama sebelum kemudian ditabrak KA Argo Bromo Anggrek.

Selain proses hukum terhadap masinis, hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga mengungkap sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan. Temuan tersebut antara lain berkaitan dengan komunikasi dan kondisi kaca lokomotif yang disebut dapat memengaruhi kemampuan masinis dalam memahami sinyal pembantu. KNKT menegaskan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan temuan investigasi dan bukan penetapan tanggung jawab pidana.

Sementara itu, proses hukum terhadap masinis masih berlanjut. Polda Metro Jaya menyebut AN dijerat dengan sejumlah ketentuan dalam KUHP dan Undang-Undang Perkeretaapian, dengan ancaman hukuman maksimal hingga 12 tahun penjara. PT KAI menyatakan menghormati proses hukum serta mendukung proses investigasi dan penegakan hukum terkait kecelakaan tersebut.

Selasa, 29 September 2026

Banjir Thailand dan Myanmar Makin Meluas, Jutaan Warga Terdampak

Banjir Thailand dan Myanmar Makin Meluas, Jutaan Warga Terdampak

Banjir besar melanda sejumlah wilayah Thailand dan Myanmar setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian karena berdampak pada masyarakat dalam jumlah besar, sementara sejumlah wilayah masih menghadapi genangan dan risiko tanah longsor.

Di Thailand, banjir telah berdampak pada lebih dari 1,7 juta orang di 27 provinsi sejak pertengahan September. Sedikitnya delapan orang dilaporkan meninggal dunia, dengan korban tercatat di Sa Kaeo, Chanthaburi, dan Saraburi. Bangkok juga menetapkan status bencana setelah hujan deras selama hampir 48 jam menyebabkan sejumlah jalan dan kawasan permukiman terendam.

Situasi di Bangkok mulai menunjukkan tanda perbaikan setelah air perlahan surut di beberapa kawasan. Namun, sejumlah wilayah dataran rendah masih terendam dan ribuan warga sempat mengungsi ke tempat penampungan. Pemerintah dan petugas setempat terus mempercepat proses drainase serta menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.

Sementara itu, kondisi cukup berat juga terjadi di wilayah Tanintharyi, Myanmar. Banjir dan tanah longsor dilaporkan menewaskan sedikitnya delapan orang, sementara sekitar 20 hingga 30 orang masih dinyatakan hilang menurut keterangan pekerja penyelamat setempat. Sejumlah desa sulit dijangkau dan ratusan warga terpaksa meninggalkan rumah untuk berlindung di tempat penampungan, termasuk biara.

Hujan deras diperkirakan masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap banjir bandang dan tanah longsor. Badan Meteorologi Thailand sebelumnya juga memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat serta risiko banjir dan longsor, terutama di wilayah dataran rendah dan sekitar aliran sungai.

Senin, 28 September 2026

Blue Fire Muncul di Kawah Manuk Papandayan, Badan Geologi Ingatkan Bahaya Gas Vulkanik

Blue Fire Muncul di Kawah Manuk Papandayan, Badan Geologi Ingatkan Bahaya Gas Vulkanik

Fenomena langka blue fire atau sinar api biru kembali terlihat di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kali ini, fenomena tersebut muncul di area Kawah Manuk pada 24 September 2026 dini hari. Badan Geologi menyebut kemunculan sinar biru tersebut berkaitan dengan pelepasan panas tinggi yang mampu membakar material di permukaan kawah.

Fenomena serupa sebenarnya pernah tercatat di Gunung Papandayan pada 2023 dan 2025, tetapi sebelumnya teramati di dinding Kawah Baru. Kemunculan terbaru di Kawah Manuk menarik perhatian karena kawasan tersebut termasuk bagian dari kompleks kawah aktif Papandayan. Badan Geologi masih melakukan pemantauan untuk memahami perubahan jalur keluarnya gas panas yang berkaitan dengan fenomena tersebut.

Meski aktivitas termal di lokasi dilaporkan cenderung menurun dan sinar api sudah tidak teramati dalam pemantauan hingga 26 September, kondisi gas di sekitar lokasi masih perlu diwaspadai. Badan Geologi melaporkan adanya pelepasan gas vulkanik yang signifikan serta bau sulfur yang menyengat pada arah angin dari lokasi manifestasi. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan apabila terjadi paparan langsung.

Badan Geologi mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak beraktivitas atau menginap di kawasan bukaan kawah aktif, termasuk Kawah Manuk, dalam radius 500 meter. Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi terkait aktivitas Gunung Papandayan. Saat ini tingkat aktivitas Gunung Papandayan masih berada pada Level I atau Normal, sementara pemantauan terhadap kawasan Kawah Manuk terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan aktivitas.

Selasa, 22 September 2026

Banjir Bandang Terjang Solok, Kompleks Perkantoran Bupati dan Akses Jalan Terdampak

Banjir Bandang Terjang Solok, Kompleks Perkantoran Bupati dan Akses Jalan Terdampak

Banjir bandang menerjang kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah setempat dan berdampak pada sejumlah kawasan di sekitar Kompleks Perkantoran Bupati Solok. Material banjir turut memasuki area perkantoran dan permukiman warga.

Sejumlah fasilitas pemerintahan dilaporkan terdampak, di antaranya kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Kesehatan, Badan Keuangan Daerah (BKD), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari (DPMN), Bapelitbang, hingga kawasan DPRD Kabupaten Solok. Selain fasilitas pemerintahan, sejumlah rumah warga juga terdampak banjir bandang tersebut.

Bencana ini juga mengganggu akses transportasi. Jalan Solok-Padang di kawasan Arosuka sempat tidak dapat dilalui karena tertutup material banjir. Kepolisian mengimbau pengendara untuk menggunakan jalur alternatif melalui Padang Panjang dan tidak memaksakan diri melewati lokasi yang masih terdampak. Tim gabungan juga melakukan penanganan dan pembersihan material di badan jalan.

BPBD Kabupaten Solok mencatat empat warga mengalami luka-luka akibat banjir bandang tersebut. Tiga korban menjalani perawatan di RSUD Arosuka, sementara satu korban dirujuk ke rumah sakit di Padang. Tim SAR Padang juga telah mengerahkan personel dan peralatan untuk membantu penanganan serta melakukan evakuasi apabila diperlukan. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap waspada terhadap kondisi cuaca dan mengikuti informasi resmi dari petugas.

Senin, 21 September 2026

Beruang Keluar Hutan di Muratara, Warga Heboh di Perbatasan Rawas Ilir dan Nibung

Beruang Keluar Hutan di Muratara, Warga Heboh di Perbatasan Rawas Ilir dan Nibung

MUSI RAWAS UTARA — Kemunculan seekor satwa yang diduga beruang menghebohkan warga Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Satwa tersebut dilaporkan terlihat pada Jumat, 18 September 2026, di kawasan perbatasan Kecamatan Rawas Ilir dan Kecamatan Nibung. Foto penampakan beruang kemudian beredar di media sosial dan menjadi perhatian masyarakat.

Berdasarkan informasi yang dibagikan warga bernama Agung Firdaus, satwa tersebut terlihat di sekitar simpang jalan baru Triaryani menuju SP2, tepatnya di sekitar simpang empat pos keamanan. Agung mengaku mendapat peringatan dari petugas keamanan ketika melintasi lokasi tersebut agar tidak memperlambat kendaraan karena terdapat beruang di sekitar kawasan itu.

Kanit Reskrim Polsek Rawas Ilir, Ipda Rilo Waskitha, mengatakan pihak kepolisian belum menerima laporan resmi dari warga mengenai penampakan tersebut. Berdasarkan informasi yang beredar, lokasi penampakan disebut berada di wilayah Kecamatan Nibung dan masih cukup jauh dari permukiman karena merupakan jalur baru yang digunakan sebagai jalan hauling angkutan batu bara. Kawasan tersebut juga diketahui menjadi habitat berbagai satwa liar.

Rilo menduga kondisi musim kemarau dapat menjadi salah satu penyebab satwa keluar dari kawasan hutan karena kesulitan mendapatkan makanan dan air. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga disebut sebagai kemungkinan faktor yang membuat satwa meninggalkan habitatnya. Polisi berencana mengecek lokasi dan mengimbau masyarakat agar tidak panik maupun memburu satwa tersebut. Warga yang kembali melihat keberadaan beruang diminta segera melaporkannya kepada pihak terkait.

Jumat, 18 September 2026

Gunung Bromo Ditutup Total! Kebakaran Meluas, Wisatawan Diminta Tunggu Informasi Resmi

Gunung Bromo Ditutup Total! Kebakaran Meluas, Wisatawan Diminta Tunggu Informasi Resmi

Kawasan wisata Gunung Bromo, Jawa Timur, ditutup total mulai 12 September 2026 akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Penutupan berlaku untuk seluruh pintu masuk hingga batas waktu yang akan ditentukan berdasarkan perkembangan kondisi kebakaran dan proses penanganan di lapangan. (Kehutanan)

Kebakaran pertama kali diketahui pada 10 September 2026 di kawasan Savana Pengol, Kabupaten Probolinggo, kemudian berkembang ke arah Gunung Kursi. Pada 12 September, api kembali membesar akibat kondisi angin dan bergerak hingga mencapai kawasan Jemplang, Kabupaten Malang. Kondisi tersebut membuat pengelola mengambil keputusan untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas wisata demi mendukung proses pemadaman. (Kehutanan)

Penutupan mencakup empat akses utama menuju kawasan Bromo, yakni Jemplang di Kabupaten Malang, Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, dan Senduro di Kabupaten Lumajang. Selain untuk membantu efektivitas penanganan kebakaran, kebijakan tersebut juga mempertimbangkan keselamatan wisatawan karena asap di sekitar lokasi berpotensi mengganggu jarak pandang. (Antara News)

Kementerian Kehutanan menyebut penanganan kebakaran melibatkan personel TNBTS, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, Masyarakat Mitra Polhut, BPBD, serta unsur TNI-Polri. Pengunjung juga diimbau tidak mendekati lokasi kebakaran dan mengikuti informasi resmi dari Balai Besar TNBTS. Sementara itu, wisata Ranu Regulo masih dapat dikunjungi sesuai ketentuan yang berlaku. (Kehutanan)

Bagi wisatawan yang telah membeli tiket Bromo untuk periode penutupan, TNBTS menyiapkan mekanisme penjadwalan ulang atau pengembalian biaya tiket. Pembukaan kembali kawasan wisata akan menunggu perkembangan penanganan kebakaran serta hasil evaluasi kondisi keamanan di lapangan. (Antara News)

Kamis, 17 September 2026

Bandung Diguncang 47 Kali Gempa, BMKG Ungkap Penyebabnya

Bandung Diguncang 47 Kali Gempa, BMKG Ungkap Penyebabnya

Wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kembali menjadi perhatian setelah rangkaian gempa bumi terjadi dalam dua hari terakhir. Berdasarkan pemantauan BMKG, sebanyak 47 kejadian gempa bumi tercatat sejak 16 September hingga 17 September 2026 pukul 07.00 WIB. Aktivitas seismik tersebut membuat masyarakat di sejumlah wilayah Bandung dan sekitarnya merasakan getaran.

Salah satu gempa yang dirasakan terjadi pada Kamis, 17 September 2026 pukul 06.21 WIB dengan magnitudo 2,7. BMKG mencatat pusat gempa berada di darat, sekitar 27 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung, dengan kedalaman hanya 4 kilometer. Getaran dirasakan dengan intensitas III MMI di Pangalengan, Kabupaten Bandung, serta Talegong dan Cisewu, Kabupaten Garut.

BMKG menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Kondisi tersebut berkaitan dengan pergerakan pada struktur sesar di wilayah daratan yang dapat memicu gempa dengan magnitudo relatif kecil namun terjadi berulang. Selain gempa M2,7, BMKG juga mencatat beberapa kejadian lain di kawasan yang sama dengan kedalaman dan magnitudo yang bervariasi.

Meski rangkaian gempa cukup banyak, hingga informasi terbaru BMKG belum terdapat laporan kerusakan bangunan akibat gempa yang dirasakan pada 17 September tersebut. BMKG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas kegempaan di wilayah Kabupaten Bandung untuk melihat perkembangan rangkaian gempa tersebut. Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengandalkan informasi dari kanal resmi BMKG.

Fenomena gempa berulang ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di wilayah yang memiliki aktivitas sesar aktif. Warga disarankan memastikan kondisi bangunan tetap aman, mengetahui jalur evakuasi, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai perkembangan gempa dan potensi dampaknya dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG.

Rabu, 16 September 2026

Gempa Kecil Terjadi di Wilayah Sulawesi, BMKG Catat Aktivitas Seismik di Semenanjung Minahasa

Gempa Kecil Terjadi di Wilayah Sulawesi, BMKG Catat Aktivitas Seismik di Semenanjung Minahasa

Aktivitas gempa bumi kembali tercatat di kawasan Sulawesi pada Rabu, 16 September 2026. Berdasarkan informasi yang disebutkan dari data real-time BMKG, terdapat sejumlah gempa dengan magnitudo relatif kecil di kawasan Semenanjung Minahasa. Salah satu kejadian tercatat memiliki magnitudo 3,5 pada pukul 04.49 WIB, sementara gempa lainnya dengan magnitudo 3,2 tercatat pada pukul 00.37 WIB.

Semenanjung Minahasa merupakan kawasan di Sulawesi Utara yang secara geologi memiliki aktivitas kegempaan. Karena itu, kemunculan gempa dengan magnitudo kecil dapat menjadi bagian dari aktivitas seismik yang terjadi dari waktu ke waktu. Informasi mengenai lokasi episentrum, kedalaman, serta apakah gempa dirasakan masyarakat perlu mengacu langsung pada pembaruan resmi BMKG untuk setiap kejadian.

Masyarakat di wilayah Sulawesi Utara, khususnya kawasan yang berdekatan dengan Semenanjung Minahasa, diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari BMKG. Gempa dengan magnitudo kecil tidak secara otomatis menunjukkan akan terjadi gempa yang lebih besar, sehingga informasi mengenai potensi dan dampaknya tidak sebaiknya disimpulkan hanya berdasarkan satu atau dua kejadian gempa.

Aktivitas gempa di Sulawesi menjadi pengingat pentingnya masyarakat memahami informasi kebencanaan dan mengetahui langkah keselamatan ketika gempa terjadi. Untuk memperoleh informasi mengenai lokasi episentrum, kedalaman, magnitudo, waktu kejadian, serta wilayah yang merasakan gempa, masyarakat sebaiknya merujuk pada kanal resmi BMKG karena data gempa dapat diperbarui setelah verifikasi.

Selasa, 15 September 2026

Hotspot Sumatra Melonjak, Karhutla Kembali Jadi Perhatian di Riau

Hotspot Sumatra Melonjak, Karhutla Kembali Jadi Perhatian di Riau

Jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Sumatra kembali menjadi perhatian pada pertengahan September 2026. Data BMKG menunjukkan kondisi atmosfer yang relatif kering membuat risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap tinggi. Pada pemantauan 13 September, BMKG mencatat 86 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatra. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan curah hujan rendah.

Di Provinsi Riau, penanganan karhutla masih dilakukan di sejumlah wilayah. Salah satunya berada di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), tepatnya Desa Karya Tunas Jaya, Kecamatan Tempuling. Sementara itu, di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), pemadaman dilakukan di wilayah Kecamatan Kuala Cenaku serta Desa Alim, Kecamatan Batang Cenaku. Sebagian kawasan yang terdampak di Batang Cenaku berada di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).

Penanganan juga dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter water bombing. Pada Senin, 14 September 2026, operasi pemadaman difokuskan di Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu. Sementara di Kepulauan Meranti, khususnya Pulau Merbau, operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan untuk membantu mendatangkan hujan setelah kembali ditemukan asap tipis yang diduga berasal dari bara di bawah permukaan lahan.

Sebelumnya, karhutla juga sempat terjadi di sejumlah daerah lain di Riau, termasuk Kabupaten Bengkalis, Pelalawan, Siak, Kampar, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kuantan Singingi, dan Kota Dumai. Data BPBD Riau per awal September mencatat luas lahan yang terbakar sepanjang 2026 telah mencapai lebih dari 18 ribu hektare, dengan Bengkalis dan Pelalawan menjadi wilayah dengan luasan terbesar.

Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. BMKG menyebut atmosfer kering yang dipengaruhi El NiƱo yang masih sangat kuat dapat meningkatkan potensi karhutla dan membuat api lebih sulit dipadamkan, terutama di lahan gambut. Masyarakat di wilayah Riau dan daerah Sumatra lainnya diimbau tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan serta segera melaporkan jika menemukan titik api atau asap yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.

Belajar Akuntansi Tak Harus Bikin Pusing, ACC Learning Hadir dengan Cara yang Lebih Praktis

Belajar akuntansi sering dianggap rumit karena identik dengan angka, jurnal, laporan keuangan, hingga perhitungan yang membutuhkan ketelitia...